Masyarakat di seluruh penjuru Jepang hari ini sedang merayakan salah satu momen paling sakral dalam kalender nasional mereka.
Tanggal 11 Februari secara resmi ditetapkan sebagai Kenkoku Kinen no Hi atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Hari Pendirian Negara. Libur nasional ini bukan sekadar jeda dari rutinitas pekerjaan, melainkan sebuah refleksi panjang terhadap sejarah panjang negeri matahari terbit tersebut.
Perayaan ini merujuk pada sebuah garis waktu yang sangat kuno, tepatnya pada tahun 660 Sebelum Masehi.
Berdasarkan catatan sejarah dan mitologi yang dipercaya secara turun-temurun, momen ini menandai titik awal berdirinya bangsa Jepang.
Kenkoku Kinen no Hi menjadi waktu bagi warga setempat untuk kembali menengok akar budaya mereka yang sudah berusia ribuan tahun. Meskipun zaman telah berubah menjadi serba modern, penghormatan terhadap hari pendirian ini tetap terjaga dengan sangat khidmat.
Banyak warga Jepang memanfaatkan hari libur ini untuk mengunjungi kuil-kuil atau berkumpul bersama keluarga di rumah.
Angka tahun 660 SM memang terdengar sangat fantastis bagi sebuah entitas negara yang masih eksis hingga detik ini. Namun, itulah yang tertulis dalam teks-teks klasik Jepang seperti Nihon Shoki yang menjadi rujukan penetapan tanggal tersebut. Pemerintah Jepang sendiri telah menetapkan hari ini sebagai hari libur resmi agar seluruh lapisan masyarakat dapat merayakannya tanpa terkecuali.
Suasana di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka biasanya menjadi sedikit lebih tenang saat liburan berlangsung.
Pertokoan mungkin tetap buka, namun instansi pemerintah dan perkantoran swasta meliburkan aktivitas operasional mereka sepenuhnya. Penetapan tanggal 11 Februari ini sebenarnya memiliki sejarah yang cukup dinamis di lingkungan internal pemerintahan Jepang. Pada awalnya, hari besar ini dikenal dengan nama Kigensetsu sebelum akhirnya mengalami perubahan nama pasca-Perang Dunia II.
Identitas nasional Jepang sangat kental terasa dalam setiap narasi yang muncul pada perayaan Kenkoku Kinen no Hi.
Secara historis, tanggal ini dipercaya sebagai hari saat Kaisar pertama Jepang, Kaisar Jimmu, naik takhta di Kashihara.
Peristiwa naik takhta tersebut dianggap sebagai fondasi utama yang menyatukan berbagai wilayah di kepulauan Jepang di bawah satu kepemimpinan. Walaupun para sejarawan modern sering memperdebatkan akurasi tanggal pastinya, nilai simbolis dari 11 Februari tetap tidak tergoyahkan.
Bagi kaum muda di Jepang, hari ini sering kali dilihat sebagai kesempatan untuk menikmati waktu santai di tengah jadwal kerja yang padat.
Namun, bagi generasi yang lebih tua, ada makna mendalam tentang kelangsungan hidup sebuah bangsa yang telah melewati berbagai zaman. Bendera nasional Hinomaru sering terlihat berkibar di depan rumah-rumah penduduk atau bangunan publik sebagai tanda penghormatan. Tidak ada parade militer besar-besaran, melainkan perayaan yang lebih bersifat kontemplatif dan kultural di berbagai wilayah prefektur.
Pentingnya tanggal 11 Februari juga berkaitan dengan cara Jepang menjaga stabilitas tradisi di tengah arus globalisasi yang kian kencang.
Setiap tahun, media massa di Jepang selalu mengangkat kembali kisah-kisah pendirian negara untuk mengedukasi generasi penerus bangsa. Mereka ingin memastikan bahwa pengetahuan tentang tahun 660 SM tersebut tidak hilang ditelan waktu. Hari Pendirian Negara adalah pengingat bahwa Jepang memiliki salah satu garis keturunan monarki tertua yang masih aktif di dunia.
Beberapa organisasi masyarakat biasanya mengadakan simposium atau diskusi mengenai makna kebangsaan pada hari libur nasional ini.
Topik yang dibahas sering kali berkisar pada bagaimana Jepang dapat terus maju tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diletakkan oleh para leluhur.
Kenkoku Kinen no Hi memang dirancang untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air di dalam sanubari setiap warga negara Jepang. Hal ini tercermin dalam sikap santun dan tertib yang ditunjukkan masyarakat saat mendatangi tempat-tempat perayaan atau situs bersejarah.
Meskipun statusnya adalah hari libur nasional, tidak semua orang Jepang merayakannya dengan cara yang sama atau seragam.
Ada sebagian kelompok yang memilih untuk melakukan aksi jalan kaki atau sekadar berwisata ke pegunungan yang sedang diselimuti salju bulan Februari. Fleksibilitas dalam merayakan hari nasional ini menunjukkan betapa demokratisnya masyarakat Jepang dalam memandang sejarah mereka sendiri. Yang paling utama adalah kesepakatan bersama bahwa tanggal 11 Februari adalah hari yang sangat istimewa bagi eksistensi negara.
Negeri Sakura memang selalu punya cara unik untuk menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dan pelestarian sejarah kuno mereka.
Penetapan 660 SM sebagai titik awal menunjukkan betapa kuatnya akar mitologi yang terjalin dengan fakta sejarah di wilayah Asia Timur. Hingga saat ini, belum ada rencana dari pemerintah untuk mengubah atau menggeser tanggal peringatan Hari Pendirian Negara tersebut. Tradisi ini sudah dianggap final dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasional Jepang di mata dunia internasional.
Masyarakat internasional pun sering kali melihat perayaan ini sebagai bentuk ketangguhan budaya yang dimiliki oleh Jepang sejak lama.
Dengan berakhirnya tanggal 11 Februari, aktivitas warga Jepang akan kembali normal keesokan harinya dengan semangat yang telah diperbarui.
Kenkoku Kinen no Hi tetap menjadi salah satu pilar penting dalam kalender nasional yang selalu dinanti kehadirannya setiap tahun. Sejarah panjang yang bermula dari ribuan tahun lalu tersebut akan terus diceritakan kepada anak cucu di masa depan.
Jepang membuktikan bahwa menghargai masa lalu adalah kunci untuk melangkah dengan mantap menuju masa depan yang lebih cerah.






