Pasar keuangan global mengalami tekanan besar pada sesi perdagangan 2 Februari 2026. Bursa saham di Asia, Eropa, hingga pasar komoditas sama-sama bergerak di zona merah, menandai meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah ekonomi dan kebijakan global.
Di kawasan Asia, mayoritas indeks utama ditutup melemah. Pasar saham Jepang mengalami penurunan signifikan, disusul Korea Selatan yang mencatat koreksi paling dalam dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan jual juga terlihat di China, Hong Kong, serta pasar Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, Filipina, Indonesia, dan Australia yang ikut terkoreksi tajam.
Analis menilai aksi jual ini dipicu oleh sentimen global yang memburuk, terutama setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai rencana penerapan pajak timbal balik terhadap seluruh mitra dagang. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi perang dagang baru dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.
Tekanan juga merambat ke pasar saham Eropa. Indeks-indeks utama di kawasan tersebut dibuka melemah, mencerminkan kehati-hatian investor setelah reli kuat sepanjang Januari yang sebagian besar didorong oleh euforia saham teknologi dan kecerdasan buatan. Sejumlah pelaku pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan aliran modal besar ke sektor teknologi dan potensi terbentuknya gelembung harga.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah turun tajam. Pelemahan ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, setelah muncul sinyal kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik. Penurunan harga minyak juga diperparah oleh penguatan dolar AS yang menekan harga komoditas berdenominasi dolar.
Penguatan dolar didorong oleh spekulasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Pasar menilai pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya sebagai sinyal kebijakan yang cenderung ketat dan berfokus pada pengendalian inflasi. Persepsi ini mendorong minat terhadap dolar dan menekan aset berisiko.
Secara keseluruhan, koreksi serentak di pasar saham dan komoditas menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor global. Setelah reli kuat di awal tahun, pasar kini mulai menimbang ulang risiko kebijakan, geopolitik, dan valuasi aset yang dinilai semakin mahal.






