Khamenei tegaskan Trump tidak akan hancurkan Iran dalam pidato terbarunya yang menyoroti kegagalan Amerika Serikat selama hampir lima dekade. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memberikan pernyataan menohok ini di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk. Menurutnya, upaya Washington untuk melakukan perubahan rezim di Teheran hanyalah sebuah angan-angan yang tidak akan pernah terwujud.
Khamenei menyebutkan bahwa setiap Presiden Amerika Serikat (AS) sejak Revolusi 1979 memiliki ambisi yang sama. Namun, sejarah membuktikan bahwa Republik Islam Iran tetap berdiri kokoh menghadapi berbagai sanksi dan ancaman.
Kegagalan AS Selama 47 Tahun Terakhir
Dalam pidatonya di hadapan warga Azerbaijan Timur, Khamenei mengutip pengakuan Donald Trump sendiri. Ia menyebut bahwa Trump pernah mengeluh karena Amerika tidak berhasil melenyapkan Republik Islam selama 47 tahun.
“Itu adalah pengakuan yang bagus,” ujar Khamenei. “Saya katakan kepada Anda: Anda pun tidak akan berhasil melakukannya.”
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung terhadap retorika Trump yang kembali menekan Teheran dengan sanksi ekonomi berat. Selain itu, pengerahan kapal induk ke perairan dekat Iran juga menjadi pemicu kemarahan pemimpin tertinggi tersebut.
Kekuatan Militer dan Ancaman Balasan Iran
Meskipun Trump sering membanggakan kekuatan militer AS, Khamenei mengingatkan bahwa kekuatan sebesar apa pun bisa lumpuh. Ia menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk memberikan pukulan balasan yang mematikan jika kedaulatannya dilanggar.
-
Kapal Induk vs Senjata Penghancur: Khamenei menyebut kapal induk adalah perangkat berbahaya. Namun, senjata yang bisa mengirim kapal itu ke dasar laut jauh lebih berbahaya.
-
Kedaulatan Nasional: Iran tidak akan membiarkan pihak luar mendikte kebijakan domestik mereka.
-
Program Nuklir: Teheran tetap bersikukuh bahwa hak mereka atas energi nuklir tidak dapat dinegosiasikan secara sepihak.
Skeptisisme Terhadap Negosiasi di Jenewa
Saat ini, pembicaraan nuklir sedang berlangsung di Jenewa, Swiss. Namun, Khamenei merasa skeptis terhadap niat tulus Amerika Serikat. Ia menilai bahwa menentukan hasil negosiasi sebelum pembicaraan dimulai adalah tindakan yang “bodoh”.
Sikap keras ini menunjukkan bahwa Iran tidak akan tunduk pada ancaman militer maupun tekanan ekonomi. Sebaliknya, Teheran justru menunjukkan kekuatannya dengan melakukan latihan penembakan rudal di Selat Hormuz sebagai pesan peringatan.
Oleh karena itu, banyak analis menilai bahwa kebijakan tekanan maksimum yang diterapkan Trump mungkin akan menemui jalan buntu yang sama seperti para pendahulunya. Iran tetap memilih untuk bertahan dan melawan daripada menyerah tanpa syarat.






