Harga emas dunia kembali mencuri perhatian pasar global setelah mencatat lonjakan harian paling tajam dalam hampir dua dekade terakhir. Pada penutupan perdagangan 3 Februari 2026, harga emas spot melonjak sekitar 287 dolar AS dan ditutup di level 4.945 dolar AS per ons. Kenaikan ini menjadi yang terkuat sejak November 2008, masa ketika dunia masih diguncang krisis keuangan global.
Momentum penguatan berlanjut pada perdagangan pagi 4 Februari, di mana harga emas sempat mendekati level psikologis 5.000 dolar AS per ons. Lonjakan tersebut terjadi setelah pasar mengalami tiga sesi penurunan berturut-turut, memicu aksi beli investor yang menilai harga emas sebelumnya sudah berada di area menarik.
Tidak hanya emas, harga perak juga ikut menguat signifikan. Logam mulia ini naik lebih dari 7 persen dan diperdagangkan di kisaran 85 dolar AS per ons. Padahal, perak sempat tertekan cukup dalam dengan penurunan hampir 27 persen pada akhir pekan lalu dan kembali melemah di awal pekan.
Analis pasar menilai koreksi sebelumnya masih berada dalam jalur tren naik jangka panjang. Wakil Direktur Zaner Metal, Peter Grant, menyebut bahwa penurunan harga emas beberapa waktu terakhir hanyalah koreksi teknis. Menurutnya, level dukungan emas saat ini berada di sekitar 4.400 dolar AS per ons, sementara area resistensi berada di kisaran 5.100 dolar AS.
Tekanan di pasar logam mulia sempat muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang. Pasar menilai kebijakan Warsh berpotensi mendukung penurunan suku bunga, namun di sisi lain juga mempersempit neraca Federal Reserve, yang sempat memberi sentimen negatif bagi emas.
Faktor tambahan yang menekan harga sebelumnya datang dari keputusan CME Group yang menaikkan rasio margin kontrak berjangka logam mulia, sehingga meningkatkan beban transaksi bagi pelaku pasar. Meski demikian, mayoritas analis tetap optimistis terhadap prospek emas.
Direktur CPM Group, Jeffrey Christian, menilai harga emas masih berpotensi mencetak rekor baru hingga akhir tahun ini. Ia menekankan bahwa ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, ditambah lingkungan suku bunga rendah, menjadi fondasi kuat bagi tren kenaikan harga emas dalam jangka panjang.
Selain emas dan perak, logam mulia lain juga mencatat penguatan. Harga platinum naik sekitar 3,4 persen ke level 2.194 dolar AS per ons, sementara palladium menguat tipis 0,4 persen dan ditutup di kisaran 1.727 dolar AS per ons.






