Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Mohammad Syafii, secara resmi melaporkan kinerja instansinya sepanjang tahun 2025 dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Rabu (28/1/2026). Dalam laporannya, Basarnas tercatat telah melaksanakan sebanyak 2.766 operasi SAR dengan total korban yang ditangani mencapai 16.996 orang.
Dari ribuan operasi tersebut, kecelakaan kapal dan kondisi yang membahayakan manusia menjadi kasus yang paling dominan. Berikut adalah rincian jenis operasi yang dilakukan:
-
Kecelakaan Kapal: 926 operasi.
-
Kondisi Membahayakan Manusia: 1.591 operasi.
-
Bencana Alam: 163 operasi.
-
Kecelakaan Pesawat Udara: 4 operasi.
-
Kecelakaan Penanganan Khusus: 82 operasi.
Mengenai kondisi korban, Basarnas mencatat keberhasilan menyelamatkan 13.579 orang. Namun, terdapat 2.698 korban meninggal dunia dan 719 orang lainnya dinyatakan hilang. Syafii menyoroti beberapa insiden besar yang menjadi perhatian publik selama tahun 2025, di antaranya jatuhnya pesawat latih PK-S126 di Bogor, tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, hingga tragedi runtuhnya Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo.
Dari sisi performa, indikator keberhasilan evakuasi Basarnas mencapai 95,46 persen, sedikit di bawah target tahunan sebesar 98 persen. Syafii menjelaskan bahwa hambatan utama di lapangan meliputi cuaca ekstrem, medan lokasi yang sulit dijangkau, serta munculnya bencana sekunder yang menghambat pergerakan tim.
Selain itu, laporan tersebut juga mengungkap bahwa pemenuhan infrastruktur SAR baru mencapai 37,88 persen. Meski demikian, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) menunjukkan tren positif dengan jumlah 14.860 personel, melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 12.558 orang.






