Anggota Komisi III DPR RI, Nasyirul Falah Amru, menilai penurunan angka kecelakaan lalu lintas selama Lebaran 2026 sebagai bukti kerja keras Polri dalam mengelola arus mudik dan arus balik. Menurutnya, capaian tersebut tidak hadir secara kebetulan, melainkan lahir dari kombinasi pengaturan lalu lintas, pengawasan di lapangan, dan langkah-langkah preventif yang dijalankan selama periode libur panjang.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis, Gus Falah menyebut bahwa turunnya jumlah kecelakaan memperlihatkan adanya peningkatan kinerja aparat kepolisian. Ia menilai Polri mampu menunjukkan keseriusan dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat yang melakukan perjalanan selama momentum Lebaran, baik ketika mudik menuju kampung halaman maupun saat kembali ke kota asal.
Apresiasi ini menjadi penting karena periode Lebaran selalu identik dengan lonjakan mobilitas yang sangat tinggi. Ketika jutaan orang bergerak dalam waktu hampir bersamaan, risiko kecelakaan biasanya ikut naik. Karena itu, tren penurunan justru menunjukkan bahwa sistem pengamanan dan rekayasa lalu lintas yang dijalankan tahun ini dinilai lebih efektif dibanding sebelumnya.
Gus Falah juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh jajaran Polri atas dedikasi yang telah mereka tunjukkan. Menurutnya, pengamanan Lebaran bukan pekerjaan sederhana karena menyangkut banyak titik rawan, jam kerja panjang, dan tekanan besar untuk memastikan perjalanan masyarakat tetap aman. Dalam situasi seperti ini, kerja polisi di lapangan memang sering baru terasa ketika hasilnya membaik.
Meski memberikan apresiasi, ia tetap mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat aparat menjadi lengah. Baginya, penurunan angka kecelakaan harus dipandang sebagai pijakan awal untuk perbaikan yang lebih jauh. Polri didorong terus melakukan inovasi dan evaluasi agar keselamatan transportasi dapat meningkat secara lebih konsisten di masa mendatang.
Pesan itu penting karena keselamatan lalu lintas bukan hanya soal statistik tahunan, tetapi menyangkut nyawa manusia. Gus Falah menegaskan bahwa satu nyawa pun sangat berharga dan harus dilindungi. Dengan kata lain, angka yang membaik memang patut diapresiasi, tetapi tujuan akhirnya bukan sekadar grafik turun, melainkan semakin banyak masyarakat yang benar-benar pulang dan kembali dengan selamat.
Data PT Jasa Raharja menunjukkan adanya tren positif selama periode siaga angkutan Lebaran 2026. Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan turun sekitar 28 persen dibanding tahun sebelumnya, dari 318 korban pada 2025 menjadi 228 korban pada 2026. Penurunan ini menjadi indikator yang cukup kuat bahwa pengelolaan lalu lintas dan keselamatan transportasi berjalan lebih baik dibanding tahun lalu.
Capaian tersebut juga dibaca sebagai hasil sinergi banyak pihak. Selain Polri, pengamanan mudik dan balik tentu melibatkan kerja sama dengan instansi lain, mulai dari operator jalan, petugas transportasi, hingga lembaga penjamin seperti Jasa Raharja. Maka, keberhasilan ini bukan semata cerita satu institusi, tetapi contoh bahwa koordinasi antarlembaga bisa memberi hasil yang nyata ketika dijalankan dengan serius.
Ke depan, penurunan angka kecelakaan selama Lebaran 2026 bisa menjadi momentum evaluasi sekaligus standar baru. Harapannya, keberhasilan ini tidak berhenti sebagai catatan musiman, melainkan menjadi dorongan untuk terus memperkuat pelayanan, pengawasan, dan pendidikan keselamatan berkendara. Sebab jalan raya saat musim mudik memang selalu penuh tantangan, dan kerja keras untuk membuatnya lebih aman tidak boleh ikut mudik setelah Lebaran selesai.






