Direktorat Intelijen Keamanan (Ditintelkam) Polda Bali menggelar diskusi bertema “Menciptakan Ruang Publik Digital yang Positif” di Denpasar, Selasa (10/03/2026). Forum ini melibatkan insan media dan sejumlah elemen masyarakat, dengan tujuan memperkuat kerja sama menjaga percakapan publik di dunia maya tetap sehat.
Acara tersebut dirangkai dengan buka puasa bersama serta silaturahmi, sehingga suasana berlangsung hangat dan cair. Polda Bali memanfaatkan momentum Ramadan untuk mempererat hubungan dengan jurnalis sekaligus membuka ruang tukar pandangan mengenai dinamika informasi di media sosial.
Dalam pertemuan itu, peserta membahas bagaimana berita dan narasi di ruang digital bisa berpengaruh pada situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Polda Bali menilai, media memiliki peran penting sebagai rujukan publik, terutama saat isu sensitif beredar cepat dan memantik spekulasi.
Kasubdit 3 Ditintelkam Polda Bali AKP Nengah Mudarya menyampaikan bahwa kepolisian berkewajiban menjaga kamtibmas secara profesional dengan menjunjung etika. Ia menekankan Bali memiliki karakter unik sebagai daerah yang harmonis dan terbuka, sehingga stabilitas informasi turut menentukan rasa aman warga dan kenyamanan wisatawan.
Menurutnya, sinergi Polri dan media juga berkaitan dengan citra pariwisata Pulau Dewata. Ketika informasi simpang siur mendominasi, dampaknya tidak hanya ke suasana sosial, tetapi juga bisa menekan kepercayaan pelaku usaha dan calon wisatawan yang menilai Bali dari pemberitaan dan tren media sosial.
Diskusi kemudian mengerucut pada kebutuhan pemberitaan yang berbasis data dan fakta. Polda Bali mendorong media menghadirkan konten yang berimbang dan edukatif, agar publik lebih kebal terhadap hoaks, provokasi, maupun informasi yang sengaja dipelintir demi memancing emosi.
AKP Nengah Mudarya menilai upaya menjaga ruang digital positif dapat dilakukan lewat komitmen bersama memproduksi berita yang menenangkan, bukan menyulut. Ia juga menyinggung pentingnya edukasi literasi informasi sehingga masyarakat terbiasa memeriksa sumber, memahami konteks, dan tidak mudah menyebarkan ulang kabar yang belum terverifikasi.
Selain soal hoaks, para peserta juga berbagi pengalaman lapangan terkait tantangan kerja jurnalistik di era algoritma. Tekanan untuk cepat sering berhadapan dengan kebutuhan verifikasi, sementara satu potongan narasi bisa menyebar jauh sebelum klarifikasi muncul.
Melalui kegiatan ini, Polda Bali berharap komunikasi dengan media semakin solid, sehingga informasi yang sampai ke masyarakat tetap akurat, proporsional, dan tidak memicu kegaduhan. Target akhirnya sederhana: Bali tetap aman, percakapan digital lebih dewasa, dan publik mendapatkan informasi yang bisa dipercaya.






