Musim tanam yang biasanya menjadi rutinitas kini berubah jadi pekerjaan berat bagi sebagian warga di Kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah. Setelah bencana banjir dan longsor menerjang wilayah tersebut pada 25–30 November 2025, saluran irigasi yang menopang pertanian setempat rusak dan tertimbun material, membuat pasokan air ke sawah dan kebun tersendat.
Masalahnya tidak berhenti pada lumpur. Gelondongan kayu yang terbawa arus banjir disebut masih banyak menutup area pertanian dan perkebunan. Meski waktu telah berjalan sekitar 75 hari sejak bencana, warga kesulitan memindahkan bongkahan kayu tersebut karena keterbatasan alat dan tenaga.
Kepala Desa Kampung Toweren, Sirwan, menggambarkan situasi saat ini sebagai masa yang serba sulit. Ia menyebut, “Saat ini kesulitan air, jadi masyarakat agak susah untuk menanam bawang sekarang. Karena bawang ini kan butuh air.” Pernyataan itu menunjukkan dampak langsung kerusakan irigasi terhadap komoditas yang memerlukan suplai air rutin.
Persoalan juga menjalar ke sawah padi. Sirwan menjelaskan bahwa sawah pada akhirnya harus dialiri air, tetapi jalur irigasinya sudah “ketimpa” material. Dalam kondisi normal, aliran air menjadi penentu utama kapan petani bisa mengolah lahan, menanam, hingga mengatur panen. Ketika saluran lumpuh, seluruh siklus produksi ikut tertahan.
Kampung Toweren menjadi salah satu wilayah yang merasakan dampak paling berat. Sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai petani dan pekebun. Mereka tidak hanya menanam padi, tetapi juga mengelola komoditas lain seperti bawang dan kopi yang biasanya dipasok ke berbagai provinsi. Ketika lahan tertutup lumpur dan kayu, arus ekonomi desa ikut tersendat.
Selain akses air, produktivitas tanah juga turun. Endapan lumpur tebal membuat struktur lahan berubah dan kualitas tanah menurun. Kondisi ini berpotensi membuat pemulihan tidak cukup hanya membersihkan permukaan, melainkan membutuhkan proses perbaikan lahan yang lebih lama agar kembali subur dan siap ditanami.
Kisah penyintas seperti Khadijah menunjukkan sisi manusia dari data bencana. Ia mengaku kehilangan mata pencaharian dan kini hanya bisa berharap pada bantuan pemerintah atau pertolongan tetangga. Khadijah berharap mendapat tambahan modal untuk kembali menanam, tetapi realitas di lapangan membuat prosesnya panjang. Ia memperkirakan kebun yang tertimbun longsor masih butuh sekitar satu tahun untuk bisa diolah lagi, menunggu kondisi jurang yang longsor stabil dan lahan lebih aman.
Data Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh menggambarkan skala kerusakan yang luas. Di Aceh Tengah, sekitar 12.638 hektare lahan kopi dilaporkan rusak parah. Selain itu, lahan cabai seluas 4.100 hektare, sawah 2.787 hektare, serta area perikanan 38 hektare juga terdampak bencana.
Situasi ini membuat kebutuhan pemulihan menjadi mendesak dan berlapis: membersihkan material kayu dan lumpur, memperbaiki saluran irigasi, memulihkan kualitas tanah, hingga membantu modal kerja petani yang kehilangan sumber pendapatan. Tanpa percepatan perbaikan irigasi, petani di Lut Tawar terancam kehilangan satu atau beberapa musim tanam—dan itu berarti pemulihan ekonomi warga akan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.






