Jaguar Land Rover di Thailand mengusulkan perubahan cara pemerintah menghitung dan memungut pajak cukai untuk kendaraan mewah. Usulan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa struktur pajak baru dapat menekan penjualan mobil premium dan berujung pada penerimaan negara yang tidak sesuai harapan.
Chanchai Mahanthakun, CEO Inchcape (Thailand), Ltd., selaku importir resmi dan distributor Jaguar Land Rover di Thailand, menilai penyesuaian pajak akan berdampak besar pada segmen kendaraan dengan harga di atas 5 juta baht (lebih dari 161.000 dolar AS). Menurutnya, segmen ini memiliki karakter pasar yang berbeda dibanding kendaraan massal.
Chanchai memperkirakan penjualan mobil premium di rentang harga tersebut dapat turun sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Perkiraan itu didasarkan pada volume pasar sekitar 10.000 kendaraan, dengan asumsi harga jual meningkat setelah pajak baru diberlakukan.
Ia menilai ada risiko “double loss”: konsumen mengerem pembelian karena harga naik, sementara negara justru berpotensi menerima pajak lebih sedikit karena volume penjualan menyusut. “Secara pribadi, saya berpikir penyesuaian struktur pajak seperti itu dapat menyebabkan pemerintah mengumpulkan lebih sedikit pajak karena penurunan penjualan merek akibat kenaikan harga kendaraan,” kurang lebih demikian inti peringatannya.
Karena itu, pihaknya mengajukan petisi kepada lembaga terkait dan pemerintah baru agar mekanisme pemungutan pajak untuk mobil mewah dipisahkan dari kelompok kendaraan populer. Argumennya, pendekatan “satu skema untuk semua” dinilai kurang adil karena struktur biaya, margin, dan sensitivitas harga di segmen premium berbeda.
Dari sisi kebijakan, pemerintah disebut ingin menarik investasi produksi domestik. Namun, menurut perusahaan, peluang investasi pabrik untuk mobil mewah relatif kecil karena ukuran permintaan pasar Thailand maupun kawasan ASEAN belum cukup besar untuk menjamin efisiensi ekonomi. Selain itu, standar global dan citra merek juga membuat produksi lokal tidak selalu mudah diterapkan pada segmen tertentu.
Data pasar yang dijadikan konteks menunjukkan segmen mobil di atas 5 juta baht pada 2025 telah menurun sekitar 5–10 persen dibanding tahun sebelumnya, dipengaruhi kondisi ekonomi domestik dan eksternal. Penjualan Inchcape pada 2025 dilaporkan sekitar 140 kendaraan, turun 5 persen dari tahun sebelumnya.
Masuk 2026, tekanan baru datang dari skema pajak yang mempertimbangkan teknologi mesin, kapasitas silinder, dan emisi CO₂. Untuk banyak model Land Rover bermesin 2.0L dengan konfigurasi PHEV, tarif cukai disebut naik dari 8 persen menjadi 15 persen—perubahan yang berpotensi menaikkan harga kendaraan minimal 10 persen pada tahun ini.
Contoh yang disorot antara lain Range Rover Autobiography LWB 3.0 P460e yang tercatat 13,799 juta baht, naik dari 12,499 juta baht. Model lain seperti Defender 110 X-Dynamic SE 2.0 P400e juga mengalami kenaikan harga dari 6,299 juta baht menjadi 6,99 juta baht. Perusahaan memperkirakan kenaikan harga 10–15 persen dapat terjadi pada beberapa varian tergantung konfigurasi.
Dengan banyak ketidakpastian, target penjualan 2026 dinilai sulit dipatok. Perusahaan menyebut hasilnya bisa setara 2025 atau berfluktuasi di kisaran 100–200 unit, sambil mengandalkan peluncuran versi penyegaran 2026 untuk Defender dan beberapa edisi khusus untuk menjaga minat pasar.






