Pemerintah menindaklanjuti rencana pembangunan Sekolah Garuda di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dengan meninjau langsung dua calon lokasi di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu. Peninjauan dilakukan untuk memastikan kesiapan lahan dari sisi teknis, legalitas, dan potensi pengembangan kawasan pendidikan terpadu berbasis sains dan teknologi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyampaikan bahwa lokasi yang ditinjau tidak hanya menarik dari sisi lanskap, tetapi juga memiliki aktivitas riset terapan yang relevan. Hal itu dinilai penting karena Sekolah Garuda dirancang terhubung dengan kebutuhan strategis nasional.
Dalam kunjungan tersebut, Stella menyoroti keberadaan riset inseminasi sapi yang dilakukan di kawasan sekitar. Menurutnya, aktivitas riset seperti peningkatan produksi susu segar dan kualitas genetik ternak menjadi nilai tambah yang dapat mendukung ekosistem pembelajaran sains secara kontekstual.
Ia menjelaskan bahwa SMA Unggul Garuda direncanakan membutuhkan lahan sekitar dua hektare dengan kontur relatif rata, meskipun tidak harus berada dalam satu hamparan utuh. Pertimbangan utama adalah keamanan, efisiensi konstruksi, dan kecukupan ruang untuk fungsi-fungsi utama sekolah.
Area terbangun utama, termasuk bangunan akademik dan lapangan olahraga, diperkirakan memerlukan lahan sekitar 1–1,5 hektare. Zona ini diutamakan berada di lahan datar agar proses pembangunan berjalan efisien dan infrastruktur pendidikan dapat berfungsi optimal sejak awal.
Selain lahan sekolah, Wamen Stella juga meninjau fasilitas riset peternakan di kawasan tersebut yang berpotensi menjadi mitra kolaborasi pendidikan dan penelitian. Di lokasi tersedia laboratorium produksi semen beku sapi dan kerbau yang disebut telah memenuhi standar SNI.
Fasilitas riset itu juga telah menjalin kerja sama dengan Universitas Hasanuddin untuk penguatan riset dan pengembangan teknologi reproduksi ternak. Distribusi semen beku ke berbagai kabupaten/kota dilakukan melalui petugas lapangan, mendukung program peningkatan populasi dan mutu ternak.
Teknologi Inseminasi Buatan (IB) yang ditinjau dalam kunjungan ini disebut memiliki efisiensi tinggi, termasuk kemampuan menghasilkan ribuan straw dari pejantan unggul setiap tahun. Tingkat keberhasilan kebuntingan yang mencapai sekitar 75 persen menunjukkan potensi besar riset terapan yang bisa menjadi laboratorium pembelajaran nyata bagi siswa.
Melalui rencana pembangunan Sekolah Garuda dan keterhubungan dengan fasilitas riset di daerah, pemerintah ingin menghadirkan model pendidikan unggul yang tidak berdiri sendiri. Pendekatan ini menegaskan arah pembangunan pendidikan yang terintegrasi dengan sains terapan, kebutuhan daerah, dan agenda strategis nasional.






