Pemerintah Thailand mendorong pengurangan gula pada minuman populer setelah angka konsumsi gula harian dinilai terlalu tinggi. Mulai Februari, sembilan jaringan kopi besar di negara itu disebut berkomitmen menurunkan takaran gula default hingga 50% pada sejumlah minuman, seperti kopi dan teh.
Latar belakangnya adalah kebiasaan konsumsi minuman manis yang sudah mengakar, dari gerai modern hingga kios pinggir jalan. Banyak orang menganggap kopi atau teh dingin sebagai “penutup” setelah makan, sehingga gula menjadi bagian yang nyaris otomatis.
Rata-rata konsumsi gula harian masyarakat Thailand disebut mencapai 21 sendok teh per hari, lebih dari tiga kali batas 6 sendok teh yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka ini membuat pemerintah mengandalkan pendekatan “mengubah default” agar masyarakat berangsur terbiasa dengan rasa yang lebih ringan.
Survei dari Departemen Gizi Thailand juga menampilkan contoh yang mencolok: segelas kopi es 650 ml dapat mengandung rata-rata 9 sendok teh gula. Sementara itu, teh susu ukuran 300 ml disebut bisa mencapai 12 sendok gula, tergantung resep dan penjual.
Takaran “manis” di Thailand pun kerap dianggap lebih tinggi dibanding negara lain. Beberapa pengunjung mengaku harus meminta level gula 25–50% atau bahkan tanpa gula, agar minuman tetap nyaman dikonsumsi. Di sisi lain, ada juga wisatawan yang merasa rasa manis tidak selalu berlebihan karena bisa disesuaikan saat memesan.
Pejabat kesehatan memperingatkan dampak konsumsi gula yang tinggi, dari obesitas hingga diabetes. Data yang disebutkan menempatkan obesitas sebagai masalah yang signifikan, sementara diabetes juga menjadi perhatian karena jumlah penderitanya tidak kecil.
Dalam panduan baru, contoh penurunan gula dijelaskan lewat ukuran gelas. Minuman kopi 16 ons (sekitar 470–500 ml) yang sebelumnya mengandung sekitar 7,3 sendok teh gula ditargetkan turun menjadi 3,7 sendok. Untuk es teh atau teh susu, takaran gula default disebut turun dari 6,6 menjadi 3,3 sendok.
Kebijakan ini menggunakan prinsip ekonomi perilaku: mengubah pilihan standar agar lebih sehat, namun tetap memberi ruang bagi konsumen yang ingin rasa lebih manis. Artinya, pengurangan berlaku sebagai “default”, bukan larangan total.
Meski begitu, penerapannya diprediksi tidak mudah karena tiap merek bisa menjalankan program dengan caranya sendiri. Sejumlah pelanggan sempat bingung item menu mana saja yang terdampak, serta bagaimana memesan minuman dengan tingkat kemanisan yang mereka inginkan.
Jika konsisten diterapkan, langkah ini berpotensi mengurangi konsumsi gula harian tanpa memaksa perubahan drastis. Namun keberhasilan jangka panjangnya akan sangat bergantung pada edukasi konsumen, transparansi takaran, dan konsistensi pelaku usaha.






