TikTok berhasil mencapai kesepakatan damai di menit-menit terakhir untuk mengakhiri tuntutan hukum besar yang menuduh platform tersebut sengaja merancang fitur yang memicu kecanduan media sosial. Dengan kesepakatan ini, TikTok resmi menghindari proses persidangan terbuka yang berisiko merusak citra publik serta operasional perusahaan.
Kesepakatan yang rinciannya masih dirahasiakan ini tercapai tepat sesaat sebelum pemilihan juri dimulai. Langkah TikTok ini menyusul jejak Snap yang juga telah mencapai kompromi serupa satu minggu sebelumnya. Meski lolos dari tuntutan ini, TikTok masih harus menghadapi lebih dari sepuluh prosedur hukum paralel lainnya terkait isu serupa.
Fokus Gugatan Kini Mengarah ke Meta dan YouTube Gugatan ini berawal dari keluhan yang diajukan pada tahun 2023 oleh seorang warga California berinisial K.G.M. Ia menuduh raksasa teknologi seperti Meta, Snap, TikTok, dan YouTube telah menciptakan ekosistem “adiktif” yang berdampak buruk pada kesehatan mental anak di bawah umur.
Dengan mundurnya TikTok dan Snap dari bangku terdakwa, fokus persidangan kini tertuju sepenuhnya pada:
-
Meta: Perusahaan induk Facebook dan Instagram.
-
YouTube: Anak perusahaan video di bawah naungan Alphabet.
Para petinggi besar seperti Mark Zuckerberg (Meta), Adam Mosseri (Instagram), dan Neal Mohan (YouTube) diprediksi tetap harus memberikan kesaksian di pengadilan untuk menjelaskan tanggung jawab platform mereka terhadap pengguna muda.
Menuju Perubahan Regulasi Digital Rangkaian kesepakatan damai yang diambil oleh para raksasa teknologi ini dipandang sebagai sinyal kesadaran baru mengenai risiko kecanduan digital. Meski rincian biaya kompensasi disembunyikan, para pengamat hukum menilai bahwa sistem peradilan Amerika Serikat tengah mempercepat langkah untuk menuntut tanggung jawab sosial dari penyedia jejaring sosial.
Sepanjang tahun 2026, California dijadwalkan akan menggelar beberapa persidangan serupa lainnya. Hal ini menandai pergeseran besar dalam regulasi media sosial, di mana perlindungan kesehatan mental anak di bawah umur kini menjadi prioritas utama dalam menghadapi algoritma yang dianggap manipulatif.






