BYD melayangkan gugatan terhadap pemerintah federal Amerika Serikat terkait kebijakan tarif yang dinilai tidak masuk akal dan merugikan. Gugatan itu diajukan melalui empat anak perusahaan BYD yang berbasis di Amerika Serikat ke Pengadilan Perdagangan Internasional AS (Court of International Trade/CIT) pada 26 Januari. Dokumen pengadilan yang dipublikasikan pada 2 Februari menunjukkan, BYD secara terbuka menantang legalitas perintah eksekutif tarif yang dikeluarkan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA).
Dalam berkas perkara, para penggugat mencakup unit-unit inti BYD di Amerika Utara seperti BYD America LLC dan BYD Coach & Bus LLC. Sementara pihak tergugat adalah pemerintah federal beserta pejabat tinggi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Kantor Perwakilan Dagang AS. Inti permohonan BYD adalah meminta pengadilan menyatakan bahwa perintah tarif untuk barang dari Meksiko, Kanada, China, Brasil, dan India telah melampaui kewenangan Presiden.
BYD juga memohon agar pengadilan mengeluarkan penangguhan permanen terhadap langkah-langkah tarif tersebut. Tidak berhenti di situ, perusahaan meminta pengembalian seluruh pajak IEEPA yang telah dipungut dari BYD, lengkap dengan bunga serta biaya litigasi. Namun, proses perkara ini saat ini disebut tertahan karena menunggu putusan akhir Mahkamah Agung AS dalam perkara serupa yang diajukan perusahaan lain, yakni VOS. Keputusan atas kasus pembanding itu diperkirakan keluar pada paruh pertama 2026, sehingga perkara BYD ikut tertunda dari sisi prosedural.
Meski sedang “dibekukan” sementara, gugatan tersebut dipandang memiliki arti strategis bagi BYD. Di Amerika Serikat, BYD selama ini menempatkan fokus pada kendaraan komersial, termasuk pabrik bus listrik berskala besar di California. Fasilitas itu disebut telah menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 750 pekerja lokal, sehingga posisi BYD di pasar AS tidak sepenuhnya baru, meski saat ini segmennya lebih banyak di transportasi publik dan kendaraan niaga.
Putusan yang menguntungkan bagi BYD bisa menjadi “kunci” untuk mendorong ekspansi lebih jauh, termasuk membuka peluang membawa produk transportasi ke pasar AS dengan hambatan tarif yang lebih ringan. Dalam catatan kinerja regional, Meksiko pada 2025 disebut menjadi pasar luar negeri terbesar BYD dengan penjualan melampaui 120.000 unit, menandakan potensi besar BYD di Amerika Utara.
Jika BYD menang dalam sengketa hukum ini, produk otomotif dari pabrik BYD di Brasil diklaim berpeluang masuk ke pasar AS dengan beban pajak di bawah 15 persen. Selain itu, proyek pembangunan pabrik di Meksiko yang sebelumnya tertahan karena ketidakpastian kebijakan juga berpotensi mendapat ruang untuk dilanjutkan. Langkah hukum ini sekaligus dipandang sebagai upaya BYD menembus hambatan dagang demi ambisi menghadirkan kendaraan listrik berbiaya rendah yang lebih mudah dijangkau konsumen AS.






