Mercedes-Benz resmi memperluas peta pasokan baterai kendaraan listriknya melalui kontrak jangka panjang dengan Samsung SDI. Kesepakatan ini disebut bernilai lebih dari 10.000 miliar won, atau sekitar 6,8 miliar dolar AS, dan menjadi kerja sama pasokan perdana antara produsen baterai Korea Selatan tersebut dengan pabrikan mobil mewah asal Jerman itu.
Penandatanganan perjanjian dilakukan di Seoul dengan dihadiri jajaran pimpinan dari kedua pihak. Dari Samsung hadir Chairman Lee Jae-yong dan CEO Samsung SDI Choi Joo-sun, sementara dari Mercedes-Benz hadir CEO Grup Mercedes-Benz Ola Kallenius, CTO Jorg Burzer, dan CEO Mercedes-Benz Matthias Vaitl. Kehadiran para petinggi ini menunjukkan bahwa kontrak tersebut bukan transaksi biasa, melainkan bagian dari langkah strategis jangka panjang.
Menurut Samsung SDI, baterai yang akan dipasok menggunakan material nikel tinggi berbasis kimia NCM atau nikel-kobalt-mangan. Jenis baterai ini dipilih karena mampu menawarkan kepadatan energi yang lebih tinggi, daya lebih besar, umur pakai yang lebih panjang, dan jarak tempuh kendaraan yang lebih baik. Selain itu, Samsung juga menekankan bahwa baterai tersebut akan dibekali teknologi keselamatan milik perusahaan.
Pasokan baterai ini akan digunakan untuk lini kendaraan listrik Mercedes-Benz yang direncanakan meluncur mulai 2028. Meski detail modelnya belum sepenuhnya dibuka, baterai Samsung SDI disebut akan dipasang pada SUV listrik kecil, menengah, serta coupe generasi berikutnya. Ini sejalan dengan strategi Mercedes-Benz yang sedang memperluas portofolio kendaraan listriknya di berbagai segmen.
Bagi Samsung SDI, kontrak ini memiliki arti besar karena memperluas jejaknya di industri otomotif Eropa. Sebelumnya, perusahaan ini sudah bekerja sama dengan BMW dan Volkswagen. Dengan masuknya Mercedes-Benz ke daftar pelanggan, posisi Samsung SDI di pasar baterai kendaraan listrik global semakin menguat, baik dari sisi reputasi maupun peluang pertumbuhan produksi.
Sementara itu, Mercedes-Benz melihat kerja sama ini sebagai cara untuk memperkuat stabilitas pasokan. Selama ini, perusahaan Jerman itu telah menggunakan baterai dari beberapa pemasok Korea Selatan lain seperti LG Energy Solution dan SK On. Masuknya Samsung SDI ke rantai pasok akan membantu diversifikasi sumber baterai, yang sangat penting di tengah ketatnya persaingan dan tingginya kebutuhan untuk kendaraan listrik generasi baru.
Kedua perusahaan juga tidak membatasi hubungan hanya pada urusan pasokan. Mereka memberi sinyal akan memperluas kerja sama ke pengembangan teknologi baterai generasi berikutnya dan solusi mobilitas masa depan. Dengan kata lain, ini bukan sekadar urusan “jual baterai, terima kasih, sampai jumpa”, melainkan potensi kemitraan teknologi yang lebih dalam.
Kesepakatan ini juga disebut sebagai hasil dari hubungan yang terus diperkuat antara kedua grup. Sebelumnya, Ola Kallenius sempat bertemu Lee Jae-yong untuk membahas peluang kerja sama di bidang elektronik otomotif dan baterai. Hubungan itu makin relevan karena Harman, anak usaha Samsung Electronics, saat ini juga memasok sistem infotainment dan audio untuk Mercedes-Benz. Jika kolaborasi terus berkembang, kedua raksasa ini bisa menjadi pasangan penting dalam perlombaan mobil listrik global beberapa tahun ke depan.






