Upaya Tesla untuk membatalkan putusan juri terkait kecelakaan fatal yang melibatkan sistem Autopilot kembali menemui jalan buntu. Seorang hakim federal di Miami memutuskan untuk tetap mempertahankan keputusan juri yang sebelumnya menjatuhkan tanggung jawab finansial besar kepada perusahaan mobil listrik tersebut.
Keputusan terbaru keluar pada 20 Februari, ketika Hakim Beth Bloom menyatakan bukti yang diajukan dalam persidangan dinilai sangat kuat untuk menopang putusan. Di mata pengadilan tingkat pertama, argumen tambahan dari pihak Tesla tidak dianggap cukup baru atau cukup meyakinkan untuk mengubah hasil.
Perkara ini berakar pada insiden di Key Largo, Florida, pada April 2019. Saat itu, sebuah Tesla Model S yang disebut berjalan dengan Autopilot melaju sekitar 100 km/jam dan menerobos lampu merah serta tanda berhenti, lalu menghantam sebuah SUV yang berada di sisi jalan.
Tabrakan tersebut menimbulkan dampak berat bagi korban. Naibel Benavides (22) meninggal dunia, sementara pasangannya, Dillon Angulo, dilaporkan mengalami luka serius. Kasus ini kemudian menjadi salah satu ujian paling menonjol mengenai batas tanggung jawab pengemudi dan sistem bantuan mengemudi.
Dalam putusan juri pada Agustus 2025, Tesla dinyatakan memiliki porsi tanggung jawab 33 persen, sedangkan pengemudi, George McGee, menanggung 67 persen sisanya. Untuk bagian pengemudi, disebut sudah ada penyelesaian kompensasi terpisah sebelumnya dengan pihak korban.
Nilai total yang dibebankan kepada Tesla berada di kisaran 243 juta dolar AS. Rinciannya mencakup 200 juta dolar sebagai punitive damages, kemudian 42,6 juta dolar sebagai kompensasi nyata kepada keluarga korban dan korban, serta sekitar 20.000 dolar yang dikaitkan dengan kerusakan tertentu.
Tesla, dalam pembelaannya, menekankan bahwa penyebab utama adalah kelalaian pengemudi—disebut terganggu karena mengangkat telepon. Perusahaan juga menegaskan Autopilot tidak dirancang untuk “mengalahkan” perilaku ceroboh manusia di setiap situasi jalan raya, melainkan tetap membutuhkan pengawasan penuh.
Meski demikian, penolakan hakim untuk mengubah putusan membuat strategi hukum Tesla di tingkat ini praktis mentok. Perusahaan masih memiliki ruang untuk mengajukan banding ke tingkat yang lebih tinggi, namun keputusan ini sudah memberi sinyal bahwa pengadilan tidak serta-merta menerima narasi “semua salah pengemudi” ketika ada indikasi peran software dalam rangkaian kejadian.
Di sisi lain, para pengamat menilai putusan semacam ini bisa menjadi preseden yang sensitif. Juri mulai mempertimbangkan tanggung jawab sistem bantuan mengemudi, bukan hanya perilaku manusia di balik kemudi. Jika pola ini berlanjut, perusahaan otomotif dengan fitur semi-otonom berpotensi menghadapi gelombang litigasi serupa.
Bagi Tesla, tekanan tidak hanya soal nominal denda, melainkan juga dampak jangka panjang pada persepsi publik dan kebijakan keselamatan. Perkara ini menjadi pengingat bahwa promosi teknologi canggih selalu diikuti ekspektasi perlindungan yang lebih tinggi, sementara batas “bantuan” dan “kendali” masih terus diperdebatkan di ruang hukum.






