China kerap disebut sebagai pusat pertumbuhan kendaraan listrik dunia, termasuk untuk sektor transportasi umum. Namun, apakah benar ada kota di China yang armada taksinya nyaris seluruhnya sudah menggunakan listrik?
Jawabannya mengarah ke Shenzhen. Berdasarkan laporan yang mengutip TechCrunch, lebih dari 99 persen taksi di Shenzhen telah beralih ke kendaraan listrik murni. Capaian ini menjadikan Shenzhen sebagai salah satu contoh paling menonjol dalam transformasi transportasi perkotaan berbasis energi bersih di China.
Perubahan besar tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Gelombang transisi menguat sejak sekitar 2017 ketika berbagai kota besar di China mulai memperketat kebijakan pengendalian polusi udara. Pada fase ini, pemerintah daerah mendorong pergantian armada layanan, termasuk taksi dan bus, dari bahan bakar fosil ke listrik.
Selain Shenzhen, kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai juga disebut telah melakukan transisi besar pada kendaraan layanan publik. Tidak hanya taksi, namun juga armada bus.
Menariknya, kota yang lebih kecil seperti Taiyuan (Shanxi) juga menjadi contoh penting. Meski skalanya tidak sebesar Beijing atau Shanghai, tingkat konversi taksi listrik di kota ini dilaporkan sangat tinggi, bahkan menembus lebih dari 90 persen.
Faktor industri otomotif lokal turut memengaruhi percepatan transformasi. Setiap wilayah di China memiliki kedekatan dengan pemain otomotif tertentu, misalnya BAIC di Beijing, SAIC di Shanghai, dan BYD di Shenzhen. Karena itu, keberhasilan Shenzhen kerap dikaitkan dengan kuatnya ekosistem BYD, termasuk kehadiran model awal seperti BYD e6 yang sempat populer sebagai taksi listrik.
Dari sisi kebijakan, sejumlah pemerintah daerah juga memberi insentif. Di Beijing, misalnya, pengemudi taksi listrik disebut menerima dukungan biaya tambahan untuk membantu menutup ongkos pengisian daya. Selain itu, pembatasan mobil bensin baru serta pengaturan prioritas izin layanan ikut mempercepat adopsi kendaraan listrik.
Meski demikian, tidak semua kota di China bergerak dengan pola yang sama. Di Chongqing, misalnya, tingkat taksi listrik disebut belum dominan. Pendekatan yang ditempuh cenderung lebih fleksibel dengan mendorong kategori new energy vehicle (NEV), yang mencakup mobil listrik, hybrid, PHEV, hingga EREV.
Pemerintah daerah di kota seperti Chongqing juga lebih menekankan pembangunan infrastruktur, termasuk fasilitas pengisian dan penukaran baterai, agar transisi berlangsung bertahap dan realistis sesuai kondisi setempat.
Secara umum, pengalaman China menunjukkan bahwa keberhasilan konversi taksi ke listrik bukan hanya soal teknologi kendaraan. Kebijakan daerah, insentif, kesiapan infrastruktur, dan kekuatan produsen otomotif lokal sama-sama menentukan. Shenzhen dan Beijing melaju cepat ke era listrik murni, sementara kota lain memilih jalur transisi yang lebih gradual.






