Ferrari menatap 2026 dengan optimisme tinggi. Pabrikan supercar asal Italia ini memperkirakan keuntungan inti pada 2026 akan tumbuh setidaknya 6 persen. Dorongannya datang dari rangkaian model sport baru dan satu agenda paling ditunggu: peluncuran mobil listrik pertama Ferrari.
Proyeksi tersebut muncul setelah kinerja kuartal keempat 2025 dilaporkan melampaui ekspektasi. Efeknya terlihat jelas pada pergerakan saham. Setelah laporan dirilis, saham Ferrari sempat melonjak tajam dalam sesi perdagangan, memperlihatkan pasar menyambut sinyal pertumbuhan dan strategi produk yang lebih kuat.
Ferrari menyebut pertumbuhan 2026 akan ditopang oleh beberapa model yang diluncurkan sebelumnya dan terus “mengalir” ke penjualan. Selain itu, persiapan peluncuran mobil listrik pertama menjadi katalis tambahan, baik dari sisi pemasaran maupun daya tarik kolektor yang selalu mencari momen historis dalam lini Ferrari.
Mobil listrik pertama itu disebut bernama Ferrari Luce dan dijadwalkan meluncur pada 26 Mei. Di balik proyek ini, Ferrari menggandeng Ferrari Styling Centre serta LoveFrom, perusahaan desain yang didirikan oleh Marc Newson dan Sir Jony Ive. Kolaborasi desain semacam ini memberi pesan bahwa Ferrari ingin EV pertamanya tetap membawa identitas estetika yang kuat.
CEO Benedetto Vigna menyampaikan umpan balik awal dari pelanggan disebut “sangat positif”. Ferrari juga menekankan daftar pesanan mereka sudah terisi hingga akhir 2027. Jika benar demikian, ini menunjukkan bahwa permintaan masih solid, meski pasar global sedang ramai perdebatan soal seberapa cepat konsumen menerima EV performa tinggi.
Menariknya, total pengiriman Ferrari tahun lalu tercatat 13.640 unit dan sedikit turun dibanding tahun sebelumnya. Ferrari menyatakan penyesuaian ini merupakan bagian strategi untuk mengurangi tekanan selama masa transisi portofolio produk. Artinya, Ferrari sengaja mengatur ritme produksi agar kualitas dan positioning tetap terjaga.
Dari sisi strategi jangka panjang, Ferrari mematok komposisi portofolio 2030: 40 persen mesin pembakaran, 40 persen hibrida, dan 20 persen EV. Target ini disebut sudah disesuaikan ulang karena daya tarik EV performa tinggi tidak se“panas” yang diperkirakan sebelumnya. Ferrari memilih realistis, tanpa meninggalkan arah elektrifikasi.
Ferrari juga menyinggung ukuran finansial seperti EBITDA dan arus kas operasi. Yang ditekankan adalah kemampuan Ferrari menjaga profitabilitas melalui disiplin harga, eksklusivitas, dan permintaan yang tetap tinggi di banyak pasar. Model bisnis Ferrari memang lebih mengandalkan margin besar, bukan volume masif.
Di mata analis, proyeksi 2026 dinilai cukup kuat. Ada yang menilai hasil tahunan Ferrari berada di atas ekspektasi, sementara pandangan untuk 2026 berada di atas konsensus pasar meski tidak berlebihan. Reaksi pasar yang positif menunjukkan ekspektasi investor kembali menguat setelah sebelumnya Ferrari sempat dinilai terlalu berhati-hati.
Yang jelas, 2026 menjadi tahun kunci. Ferrari harus membuktikan bahwa EV pertama dapat diterima tanpa mengorbankan elemen yang membuat Ferrari “Ferrari”: suara, karakter, eksklusivitas, dan pengalaman emosional. Jika berhasil, Ferrari bukan hanya ikut tren, tetapi mengubah standar bagaimana supercar listrik seharusnya hadir.
Dengan antrian pesanan panjang, peluncuran model baru, dan strategi portofolio yang lebih seimbang, Ferrari tampak sedang menyiapkan transisi dengan cara mereka sendiri. Bukan buru-buru. Bukan juga menunda. Melainkan menjaga momentum sambil memastikan setiap langkah tetap punya nilai sejarah.






