Tesla memberi sinyal serius memperkuat posisi di Thailand dengan langkah yang lebih “lokal”. Perusahaan kendaraan listrik itu menunjuk Phichayut Wongphathansin sebagai manajer pertama di Thailand, sekaligus membentuk tim manajemen yang diisi personel setempat untuk memperdalam pemahaman pasar.
Langkah ini menandai perubahan strategi setelah Tesla resmi masuk pasar Thailand sejak Desember 2022. Setelah berjalan lebih dari tiga tahun, perusahaan kini terlihat ingin memperluas pangsa pasar melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kebutuhan konsumen dan karakter lalu lintas negara tersebut.
Phichayut menyebut salah satu agenda utama adalah memperluas jaringan Tesla Center ke berbagai provinsi. Ekspansi direncanakan menyasar wilayah Utara, Selatan, Timur, dan Timur Laut, dengan target dimulai pada kuartal ketiga 2026.
Tesla menilai Thailand punya daya tarik besar untuk ekosistem kendaraan listrik. Selain masyarakat yang cepat menerima teknologi baru, tingkat penetrasi internet dan penggunaan jejaring sosial juga tinggi—dua faktor yang biasanya mempercepat penyebaran tren dan memperluas komunitas pengguna.
Di sisi layanan, Tesla juga memperkenalkan penjualan mobil bekas resmi di bawah manajemen perusahaan, bukan melalui pihak ketiga. Skema ini diproyeksikan memberi rasa aman bagi konsumen karena proses inspeksi, standar kualitas, dan layanan purnajual berada dalam kontrol merek yang sama.
Perusahaan juga berencana menggandeng mitra asuransi dengan pendekatan berbasis data. Tesla akan memanfaatkan informasi dari pusat perbaikan dan gudang suku cadang untuk menghitung biaya perbaikan secara lebih presisi, sehingga premi asuransi diharapkan lebih masuk akal dan sesuai profil risiko kendaraan.
Untuk pemilik Tesla yang masa garansinya berakhir, Tesla mempertimbangkan paket perpanjangan garansi setelah melewati empat tahun atau 80.000 km. Opsi ini penting bagi konsumen yang ingin kepastian biaya perawatan jangka panjang, terutama untuk kendaraan listrik yang mengandalkan sistem elektronik dan perangkat lunak.
Hingga saat ini, Tesla dikabarkan telah menyerahkan lebih dari 21.000 kendaraan listrik di Thailand dan mengklaim tetap tumbuh berkelanjutan. Ekosistem pendukung juga terus dibangun, dari infrastruktur pengisian hingga layanan bengkel.
Dalam laporan yang sama, Tesla disebut telah memiliki 41 Supercharger, 15 Destination Charging, 5 Experience Center, 4 Service Center, dan 2 Tesla Center, ditambah layanan Mobile Service. Kombinasi ini membuat pengalaman pengguna tidak hanya bergantung pada showroom, tetapi juga layanan jemput-bola untuk perawatan tertentu.
Soal Full-Self Driving (FSD), perusahaan menilai perangkat keras pada produk 1–2 tahun terakhir sudah mendukung, tetapi implementasi legal menunggu izin tiap negara. Tesla mencatat FSD telah digunakan di delapan negara, namun Thailand masih menghadapi tantangan regulasi dan kondisi lalu lintas yang kompleks.
Ke depan, Tesla juga menyinggung arah perusahaan yang kian melebar ke otomatisasi, termasuk Robotaxi dan robot humanoid Optimus. Namun untuk pasar Thailand, kunci jangka pendeknya tetap sederhana: jaringan layanan bertambah, akses kepemilikan makin mudah, dan pengalaman pengguna dibuat makin mulus.






