Kelompok-kelompok utama industri otomotif Amerika Serikat meminta pemerintahan Donald Trump tetap membatasi akses produsen mobil China ke pasar AS. Dorongan itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa ekspansi kendaraan asal China dapat menggerus daya saing industri domestik sekaligus menimbulkan persoalan yang lebih luas, termasuk aspek keamanan nasional.
Permintaan tersebut dituangkan dalam surat resmi yang dikirimkan kepada pemerintah Amerika Serikat. Dalam dokumen itu, asosiasi industri menilai langkah China untuk memperbesar pengaruh di industri otomotif global bukan lagi isu dagang biasa, melainkan ancaman strategis yang bisa memukul fondasi manufaktur dan inovasi otomotif Amerika.
Mereka menekankan bahwa keunggulan harga dan percepatan teknologi yang dimiliki pabrikan China berpotensi membuat dominasi terjadi sangat cepat bila tidak dibatasi sejak dini. Kekhawatiran seperti itu, menurut mereka, sudah mulai terlihat di sejumlah pasar luar negeri, sehingga AS tidak boleh menunggu sampai skenario serupa terjadi di dalam negeri.
Salah satu poin utama yang mereka dorong adalah agar Washington mempertahankan regulasi keamanan siber yang dikeluarkan Departemen Perdagangan pada 2025. Aturan tersebut secara efektif membuat sebagian besar kendaraan buatan China sulit masuk ke pasar Amerika karena dinilai membawa risiko terhadap sistem industri dan ekosistem digital kendaraan modern.
Kelompok industri itu juga mengingatkan bahwa persoalan tidak otomatis selesai hanya karena kendaraan China diproduksi di wilayah AS. Mereka berpendapat, ancamannya tetap sama, baik kendaraan tersebut datang melalui impor langsung maupun diproduksi lewat pabrik yang dibangun di Amerika Serikat. Dengan kata lain, menurut mereka, masalahnya bukan sekadar alamat pabrik, melainkan pengaruh struktural yang dibawa masuk.
Desakan ini menguat di saat hubungan Washington dan Beijing kembali menjadi sorotan, termasuk menjelang agenda kunjungan Donald Trump ke China pada akhir Maret. Kunjungan tersebut diharapkan menjaga stabilitas hubungan dua ekonomi terbesar dunia setelah berbagai gesekan terkait tarif, ekspor mineral strategis, dan persaingan industri berteknologi tinggi.
Dari pihak China, kritik itu dibantah. Kedutaan Besar China di Washington menyatakan kendaraan buatan China diterima di banyak pasar dunia karena inovasi teknologi dan kualitas produk, bukan karena praktik persaingan tidak sehat. Beijing juga menegaskan pasar mereka tetap terbuka bagi merek global, termasuk perusahaan Amerika yang selama ini menikmati keuntungan dari ukuran pasar China yang sangat besar.
Namun bagi industri otomotif AS, perdebatan ini jauh lebih dalam daripada sekadar jual beli mobil. Mereka melihatnya sebagai pertarungan atas masa depan manufaktur, baterai, perangkat lunak kendaraan, hingga kontrol rantai pasok global. Jadi wajar bila nada surat mereka terdengar keras: kalau pasar dibuka terlalu lebar, mereka khawatir besok-besok bukan cuma mobil China yang masuk, tetapi juga dominasi penuh yang susah dibalikkan.






