Jaguar Land Rover kembali menghadapi gangguan serius pada operasional manufakturnya setelah harus menghentikan produksi di pabrik Solihull, Inggris. Gangguan ini dipicu masalah pasokan komponen dari pemasok di Norwegia yang terdampak kebakaran. Akibatnya, produksi model penting seperti Range Rover dan Range Rover Sport terpaksa ditangguhkan untuk sementara, menambah tekanan terhadap perusahaan yang sebelumnya juga telah terpukul oleh serangan siber besar pada 2025. :contentReference[oaicite:16]{index=16}
Menurut informasi yang disampaikan kepada mitra, Jaguar Land Rover menjadwalkan penghentian produksi di Solihull hingga 8 April. Masa ini sudah mencakup libur Paskah selama lima hari, tetapi tetap menunjukkan gangguan yang tidak kecil bagi rantai produksi. Perusahaan menyebut sedang menghadapi kondisi pasokan komponen yang menantang dan mengklaim tengah bekerja bersama pemasok untuk memperbaiki persoalan secepat mungkin sembari menekan dampak kepada pelanggan dan operasi manufaktur. :contentReference[oaicite:17]{index=17}
Insiden terbaru ini datang pada waktu yang kurang ideal. Rantai pasok Jaguar Land Rover sebelumnya sudah rapuh setelah serangan siber skala besar tahun lalu yang menghentikan seluruh pabrik Inggris selama lebih dari satu bulan. Serangan itu menyebabkan gangguan besar terhadap pendapatan, operasional, dan pembayaran dalam jaringan pemasok. Jadi, saat perusahaan baru mencoba menata ulang napas, gangguan baru kembali datang dari arah yang berbeda. Nasib JLR belakangan memang seperti belum selesai diuji. :contentReference[oaicite:18]{index=18}
Dampak finansial yang ditanggung perusahaan sebelumnya pun tidak kecil. Serangan siber pada 2025 disebut merugikan Jaguar Land Rover sekitar 260 juta pound sterling karena hilangnya pendapatan dan biaya tambahan yang harus ditanggung. Pada periode Oktober hingga Desember 2025, JLR membukukan kerugian sebelum pajak sebesar 310 juta pound sterling, berbalik dari laba 523 juta pound sterling pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan juga turun tajam 39 persen menjadi 4,5 miliar pound sterling. :contentReference[oaicite:19]{index=19}
Penghentian produksi di Solihull bukan hanya persoalan internal pabrik, melainkan juga ancaman bagi jaringan pemasok yang melibatkan sekitar 200.000 pekerja. Sejumlah pemasok dilaporkan menilai gangguan ini benar-benar tidak terduga dan dapat memicu risiko kehilangan pendapatan yang serius. Bahkan ada peringatan bahwa penundaan produksi dua hingga tiga minggu dapat menjadi pukulan sangat berat bagi beberapa bisnis kecil dalam rantai pasok. Efek domino di industri otomotif memang sering lebih menyeramkan daripada jeda produksinya sendiri. :contentReference[oaicite:20]{index=20}
Jaguar Land Rover membantah kemungkinan penghentian berlangsung lebih lama dari 8 April, tetapi tekanan tetap tinggi. Penundaan ini dapat memengaruhi waktu distribusi kendaraan ke pelanggan serta memperumit pemulihan produksi yang sudah lebih dulu terganggu. Bagi merek premium, keterlambatan pengiriman bukan cuma soal jadwal, tetapi juga menyangkut kepercayaan pasar dan persepsi terhadap stabilitas perusahaan di tengah persaingan global yang makin ketat. :contentReference[oaicite:21]{index=21}
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi CEO baru, PB Balaji, yang tengah berupaya merestrukturisasi Jaguar Land Rover. Di saat yang sama, perusahaan juga sedang menyiapkan langkah besar untuk memperbarui citra Jaguar dan mendorong strategi kendaraan listrik murni untuk Jaguar dan Land Rover. Namun rencana itu ikut menghadapi tekanan tambahan, termasuk kepergian Direktur Desain Gerry McGovern yang sebelumnya berperan besar dalam transformasi merek Jaguar menuju identitas listrik premium. :contentReference[oaicite:22]{index=22}
Secara keseluruhan, gangguan di Solihull menegaskan bahwa tantangan Jaguar Land Rover belum selesai. Perusahaan tidak hanya harus memulihkan produksi dari krisis demi krisis, tetapi juga menjaga rantai pasok, stabilitas finansial, dan agenda transformasi jangka panjangnya. Di pasar Amerika Serikat, JLR masih punya harapan lewat Range Rover dan model Jaguar listrik masa depan, tetapi tekanan kebijakan pajak impor dan risiko operasional membuat jalan pemulihan terlihat makin rumit. Dalam industri otomotif, rencana besar memang bisa terlihat keren di panggung presentasi, tetapi yang menentukan tetap apakah pabriknya bisa terus menyala tanpa drama berkepanjangan. :contentReference[oaicite:23]{index=23}






