Ford dikabarkan sedang menyiapkan deretan kendaraan baru dengan banderol di bawah 40.000 dolar AS sebagai upaya menjawab isu keterjangkauan yang semakin sensitif di pasar otomotif. Di hadapan jaringan dealer di Amerika Serikat, perusahaan menyampaikan bahwa model-model baru yang lebih “ramah dompet” akan segera masuk ke portofolio, karena harga kini menjadi kekhawatiran utama baik bagi pabrikan maupun pengecer yang berhadapan langsung dengan konsumen.
Dalam pertemuan yang berlangsung di sela NADA Show, jajaran pimpinan Ford menjelaskan rencana jangka menengah hingga panjang: dari sekarang sampai akhir dekade, Ford menargetkan menghadirkan setidaknya lima model baru yang dipatok di bawah 40.000 dolar. Model pertama yang disebut akan membuka rangkaian ini adalah pickup listrik ukuran menengah yang dijadwalkan meluncur pada tahun depan. Andrew Frick, Presiden Ford Blue dan Model, mengatakan Ford tidak terpaku pada satu teknologi saja. Model-model murah itu disebut akan memakai beragam jenis penggerak, mulai dari mesin pembakaran internal, hingga listrik murni.
Frick menegaskan model-model tersebut akan tersebar di berbagai segmen, termasuk sedan, pickup, SUV, sampai van. Ia juga menekankan bahwa kendaraan yang disiapkan merupakan desain baru, bukan sekadar pembaruan kecil dari produk lama. Strategi ini dinilai penting untuk melengkapi portofolio produk Ford. Namun untuk jangka pendek, Ford disebut masih menyiapkan “solusi taktis” agar konsumen tetap bisa menjangkau mobil baru di tengah tekanan harga.
Isu harga menjadi semakin menonjol setelah Ford menghentikan crossover Escape pada Desember 2025. Kendaraan itu selama ini kerap dipandang sebagai model “pintu masuk” yang membantu Ford menjaga basis pelanggan di pasar AS. Dalam pertemuan internal pada 4 Februari, Ford memaparkan sejumlah langkah untuk memperluas akses konsumen ke kendaraan baru. Salah satunya adalah meningkatkan porsi varian standar dan varian berharga lebih rendah pada model seperti Explorer dan Bronco, sehingga rentang harga bisa lebih bersahabat.
Bukan hanya menjual mobil baru, Ford juga mendorong strategi penjualan kendaraan bekas bersertifikat (certified pre-owned/CPO), memperluas opsi pembiayaan angsuran dengan tenor panjang, menyiapkan program khusus bagi pembeli mobil pertama, serta merancang insentif tersendiri untuk pelanggan yang sebelumnya menggunakan Escape agar tetap bertahan di merek Ford. Frick menyebut ada sekitar 10 strategi khusus yang disiapkan untuk menopang kemampuan bayar konsumen.
Dua dealer yang hadir menyebut Ford menargetkan dapat mempertahankan sekitar 70% pelanggan Edge dan Escape agar tidak berpindah ke merek lain. Sementara itu, penjualan CPO melalui program Ford Blue Advantage diperkirakan tumbuh hingga 30% pada tahun ini. Dari sisi bisnis, Ford juga menyampaikan proyeksi pertumbuhan pada 2026, setelah kinerja 2025 disebut lebih baik dari perkiraan dengan penjualan naik 6% dan pangsa pasar meningkat 0,6%. Frick menambahkan, laba dari sistem dealer Ford juga meningkat sekitar 8% pada tahun lalu (hingga Oktober), dan perusahaan memasang target margin profit-to-sales sekitar 3% untuk jaringan dealer, termasuk rencana mengaitkan bonus dewan dengan pencapaian target tersebut.






