Harga mobil listrik yang sama bisa terasa “tidak masuk akal” ketika dibandingkan lintas negara. Itulah yang terjadi pada Mazda 6e di Inggris. Di satu sisi, Mazda memposisikannya sebagai sedan listrik bergaya premium. Di sisi lain, angka di showroom Inggris terlihat sangat jauh jika disandingkan dengan banderol model yang dianggap kembarannya di China.
Di pasar Inggris, Mazda 6e versi Takumi dipasang pada kisaran £38.995. Angka ini membuatnya masuk wilayah harga yang berdekatan dengan Tesla Model 3 varian standar. Dari sudut pandang konsumen, jaraknya tipis, sehingga muncul pertanyaan wajar: apa yang membuat Mazda 6e layak dibayar setara rival yang sudah punya reputasi kuat di segmen EV?
Jika menengok Jerman, patokannya bahkan berada sedikit lebih tinggi, dengan harga awal sekitar 44.900 euro. Secara positioning, Mazda terlihat ingin “naik kelas”, mengedepankan rasa premium, material kabin, dan paket fitur untuk membedakan diri dari pesaing yang fokus pada performa atau ekosistem software.
Namun kejutan utamanya justru muncul saat dibandingkan dengan China. Model yang disebut sebagai versi “Mazda6 listrik murni” di sana dijual dengan harga sekitar 159.800 yuan untuk varian standar. Jika dikonversi, nilainya kurang lebih setara £16.900. Varian lebih tinggi berada di sekitar 181.800 yuan, yang masih jauh lebih murah dibanding Inggris.
Selisihnya bisa terasa ekstrem karena berjarak sekitar 2,3 kali. Meski terdengar mengejutkan, fenomena seperti ini bukan hal asing di dunia EV. Mobil listrik yang diproduksi dan dijual di China sering memiliki harga jauh lebih rendah karena skala produksi besar, rantai pasok baterai yang kuat, serta kompetisi domestik yang sangat ketat.
Yang membuat kasus Mazda 6e menarik adalah konteks tarif di Inggris. Inggris disebut tidak menerapkan tarif tambahan khusus untuk EV asal China. Secara umum, kendaraan impor dikenakan tarif standar 10 persen, lalu PPN 20 persen untuk kendaraan baru. Artinya, perbedaan harga besar ini tidak bisa dijelaskan oleh “hukuman tarif” semata.
Lalu, faktor apa yang biasanya berperan? Ada beberapa hal yang sering memengaruhi harga lintas pasar: biaya homologasi dan sertifikasi, konfigurasi fitur yang berbeda, margin distributor, strategi positioning merek, serta biaya logistik dan asuransi. Produsen juga kerap memetakan daya beli dan lanskap kompetitor di tiap negara, lalu mengatur harga berdasarkan persepsi nilai, bukan sekadar biaya produksi.
Dari sisi teknis, Mazda 6e yang dijual di Inggris hadir dengan baterai lithium-ion 78 kWh. Klaim jarak tempuhnya bisa mencapai 560 km. Pengisian cepat disebut mampu mengisi 10–80 persen dalam 24 menit, angka yang penting untuk menegaskan bahwa mobil ini bukan hanya “EV gaya”, tetapi juga fungsional untuk penggunaan harian.
Untuk penggerak, mobil ini menggunakan motor 254 hp pada roda belakang, dengan torsi puncak 290 Nm. Akselerasi 0–100 km/jam diklaim 7,9 detik. Angka tersebut bukan yang paling agresif di kelasnya, tetapi cukup untuk menyajikan karakter sedan listrik yang halus dan responsif.
Di atas varian Takumi, ada Takumi Plus yang dipatok sekitar £39.995. Pembedanya fokus pada nuansa kabin, seperti tambahan interior kulit Nappa warna cokelat, aksen titanium, dan panoramic sunroof. Strateginya jelas: Mazda mendorong nilai rasa dan material agar pembeli merasa mendapatkan sesuatu yang “lebih mewah”, bukan sekadar angka performa.
Pada akhirnya, harga Mazda 6e di Inggris menegaskan dua hal. Pertama, pasar EV global belum pernah benar-benar “satu harga”. Kedua, Mazda tampaknya memilih jalur premium untuk membangun citra, meski konsekuensinya adalah perbandingan harga dengan China akan selalu tampak mencolok di mata konsumen yang rajin riset.






