Lamborghini membuka kemungkinan untuk kembali mengembangkan supercar bergaya off-road di masa depan. Sinyal itu datang setelah keberhasilan global Huracan Sterrato, model edisi terbatas yang memadukan karakter supercar khas Lamborghini dengan pendekatan visual dan teknis yang lebih siap untuk lintasan non-aspal.
CEO Lamborghini Stephan Winkelmann menyampaikan bahwa pintu untuk proyek serupa masih terbuka, meski belum ada rencana konkret yang diumumkan. Menurutnya, keberlanjutan gagasan tersebut akan sangat bergantung pada ketersediaan sumber daya perusahaan, karena fokus utama Lamborghini tetap berada pada varian coupe, roadster, dan model performa tinggi yang menjadi inti filosofi merek.
Huracan Sterrato sendiri menjadi proyek yang cukup unik di dunia supercar modern. Mobil ini merupakan versi spesial dari Huracan yang dibatasi hanya 1.499 unit secara global. Dengan nama yang berarti “jalan tanah” dalam bahasa Italia, Sterrato hadir sebagai supercar pertama Lamborghini yang secara terbuka mengadopsi gaya khas mobil reli dan lintas medan.
Secara teknis, Sterrato membawa sejumlah penyesuaian agar lebih siap menghadapi permukaan kasar. Mobil ini memakai ban Bridgestone khusus, ground clearance yang lebih tinggi sekitar 44 mm dibanding Huracan standar, suspensi dengan ayunan lebih panjang, serta berbagai sentuhan desain seperti lengkungan roda yang lebih menonjol dan perangkat pendukung untuk penggunaan off-road ringan.
Meski tampil lebih “liar”, Sterrato tetap mempertahankan jantung supercar sejati. Di balik bodinya, mobil ini dibekali mesin 5,2 liter V10 naturally aspirated yang menghasilkan 610 tenaga kuda dan torsi 560 Nm, dipadukan dengan sistem penggerak empat roda. Hasilnya, akselerasi 0-100 km/jam tetap bisa ditempuh dalam 3,4 detik, angka yang membuat istilah “off-road santai” langsung terdengar tidak berlaku.
Winkelmann mengungkapkan bahwa ide Sterrato sebenarnya telah ia pikirkan sejak lebih dari satu dekade lalu. Ketika akhirnya diwujudkan di akhir siklus hidup Huracan, proyek itu justru mendapat sambutan positif dari berbagai pasar. Keberhasilan tersebut menjadi alasan mengapa Lamborghini belum sepenuhnya menutup peluang menghadirkan model serupa di masa mendatang.
Saat ini, Lamborghini telah mengganti Huracan dengan Temerario, supercar baru yang menggunakan mesin V8 twin-turbo 4,0 liter dan teknologi hibrida. Jika suatu saat penerus Sterrato lahir, sangat mungkin model tersebut akan memakai basis teknologi baru ini, bukan lagi mesin V10 lama. Jadi generasi berikutnya bisa saja tetap main tanah, tapi sambil membawa elektrifikasi di bagasi teknologinya.
Di luar Sterrato, Lamborghini juga tengah memperluas lini produknya dengan Urus, Temerario, Revuelto, dan rencana model keempat pada 2029 yang diperkirakan berupa coupe 2+2 berpostur tinggi berbasis konsep Lanzador. Meski fokus elektrifikasi dan PHEV terus berkembang, pernyataan Winkelmann menegaskan bahwa Lamborghini masih melihat ruang untuk eksperimen liar yang menyenangkan—termasuk kemungkinan supercar off-road yang kembali menghantam pasar di masa depan.






