Studi akademis terbaru menunjukkan kendaraan listrik memiliki potensi ketahanan lebih baik dibanding mobil bermesin bensin dalam jangka panjang. Penelitian ini dilakukan menggunakan data operasional kendaraan nyata di Vietnam.
Tim peneliti menganalisis perbandingan daya tahan kendaraan listrik baterai dengan mobil bermesin pembakaran internal. Metode statistik menunjukkan bahwa setelah penggunaan sembilan hingga lima belas tahun, mobil bensin cenderung mengalami tingkat kerusakan lebih tinggi.
Perbedaan mulai terlihat jelas setelah usia kendaraan mendekati satu dekade. Mesin dan sistem transmisi kendaraan bensin lebih rentan mengalami keausan dibanding powertrain kendaraan listrik yang lebih sederhana.
Namun pada tahap awal penggunaan, kendaraan listrik tetap memiliki risiko gangguan terkait baterai, inverter, atau perangkat lunak. Setelah fase awal tersebut terlewati, tingkat kegagalan cenderung menurun dan stabil.
Analisis data ribuan kendaraan menunjukkan frekuensi kerusakan mobil listrik menurun setelah jarak tempuh tertentu. Sebaliknya, kendaraan bensin mengalami peningkatan kerusakan seiring usia dan penggunaan.
Selain itu, pengujian sistem pengereman menunjukkan kendaraan listrik menghasilkan panas dan keausan rem lebih rendah berkat teknologi regenerative braking. Sistem suspensi juga dinilai lebih stabil karena distribusi beban yang seimbang.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kendaraan listrik berpotensi memberikan efisiensi biaya perawatan jangka panjang meski masih menghadapi tantangan awal terkait teknologi baterai.






