Pasar otomotif Eropa semakin menunjukkan perubahan arah yang jelas. Dalam dua bulan pertama 2026, minat konsumen terhadap mobil listrik murni dan kendaraan hibrida terus naik, sementara mobil bensin justru makin kehilangan tempat. Pergeseran ini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sinyal bahwa preferensi pembeli di kawasan tersebut sedang berubah cukup cepat.
Secara keseluruhan, penjualan mobil baru di Uni Eropa, Inggris, dan negara-negara EFTA pada Februari mencatat kenaikan tipis 1,7 persen menjadi 979.321 unit. Di balik pertumbuhan yang terlihat moderat itu, komposisi pasar justru berubah cukup tajam. Mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle mulai menutup jarak dengan kendaraan bensin dari sisi kontribusi pasar.
Data industri menunjukkan mobil listrik murni kini menyumbang sekitar 18,8 persen pangsa pasar kendaraan baru di Eropa pada dua bulan pertama tahun ini. Angka itu naik dari 15,2 persen pada periode yang sama tahun lalu. Secara volume, sekitar 312.369 unit mobil listrik berhasil terdaftar, didorong terutama oleh pertumbuhan kuat di Prancis dan Jerman yang tetap menjadi dua motor utama elektrifikasi kendaraan di kawasan tersebut.
Kenaikan penjualan mobil listrik tidak datang begitu saja. Salah satu pendorong utamanya adalah semakin banyaknya model listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, berbagai insentif yang masih diberikan sejumlah negara Eropa ikut membantu menjaga minat beli masyarakat. Ketika pilihan makin banyak dan biaya kepemilikan mulai dianggap lebih masuk akal, konsumen pun punya alasan lebih besar untuk berpindah.
Faktor eksternal juga ikut bermain. Kenaikan harga minyak di tengah ketegangan geopolitik global membuat mobil berbahan bakar fosil semakin kurang menarik bagi sebagian pembeli. Dalam situasi seperti ini, kendaraan listrik dan hibrida dianggap sebagai opsi yang lebih efisien untuk jangka panjang. Logikanya sederhana: ketika biaya bahan bakar naik terus, orang mulai berhitung lebih serius, dan kalkulator biasanya tidak sentimental.
Meski begitu, pertumbuhan mobil listrik tidak merata di semua negara. Belgia dan Belanda justru mengalami penurunan penjualan mobil listrik murni. Artinya, pasar Eropa tetap memiliki karakter yang beragam, dipengaruhi kebijakan lokal, daya beli, infrastruktur pengisian daya, dan preferensi konsumen di masing-masing negara. Jadi, gambaran besarnya positif, tetapi detailnya tetap perlu dibaca hati-hati.
Di sisi produsen, persaingan juga semakin ramai. Tesla mulai menunjukkan tanda pemulihan dengan pertumbuhan penjualan 11,8 persen secara tahunan di Eropa, menghentikan tren penurunan yang sempat berlangsung cukup lama. Namun, ancaman dari merek China seperti BYD tidak bisa diremehkan. Pangsa pasar BYD kini sejajar di level 1,8 persen, tetapi lajunya jauh lebih agresif karena penjualannya tumbuh berlipat dibanding tahun sebelumnya.
Sementara itu, kendaraan hibrida self-charging atau HEV justru masih menjadi pilihan paling populer di Eropa. Hingga akhir Februari, kategori ini menguasai 38,8 persen pasar mobil baru, jauh di atas kendaraan bensin yang tinggal sekitar 22,5 persen. Jika seluruh kategori mobil hijau digabungkan, termasuk BEV, PHEV, dan HEV, pangsa pasarnya telah mencapai 67 persen. Dengan penjualan mobil bensin yang terus melemah, pasar Eropa tampak makin dekat ke titik ketika kendaraan listrik murni akhirnya bisa melampaui mobil bensin secara permanen.






