Porsche memilih kembali menaruh fokus besar pada mobil sport bermesin bensin seperti 911 untuk membantu memulihkan profitabilitas perusahaan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi baru setelah perusahaan mengalami tahun 2025 yang dinilai penuh tekanan, mulai dari kenaikan tarif, strategi elektrifikasi yang tak berjalan sesuai harapan, hingga penurunan penjualan di pasar China.
Arah tersebut disampaikan CEO baru Porsche, Michael Leiters, dalam laporan keuangan pertamanya sejak mulai menjabat pada Januari. Ia menegaskan akan menghidupkan kembali kekuatan utama Porsche melalui produk-produk bermargin tinggi, sambil mempercepat langkah efisiensi biaya di berbagai lini bisnis.
Saat ini Porsche memiliki portofolio global yang cukup luas, mencakup mobil sport seperti 911, Boxster, dan Cayman, SUV Macan serta Cayenne, hingga sedan Panamera dan Taycan. Namun ke depan, perusahaan ingin merampingkan susunan produknya dan menempatkan model-model inti seperti 911, Boxster/Cayman, serta Cayenne sebagai fokus utama pengembangan.
Strategi itu dipilih karena model-model tersebut dikenal memiliki peluang personalisasi yang tinggi. Bagi merek premium seperti Porsche, opsi tambahan dan paket kustom menjadi sumber margin yang signifikan. Dengan kata lain, bukan hanya mobilnya yang dijual, tetapi juga pengalaman eksklusif dan detail personal yang membuat harga bisa menanjak lebih tinggi.
Michael Leiters menegaskan bahwa Porsche tidak sedang mengejar volume produksi semata. Ia justru ingin perusahaan bergerak lebih ramping dan lebih selektif dalam memilih produk yang benar-benar mampu menopang laba. Pada 2028, Porsche bahkan disebut berpeluang meluncurkan SUV besar yang bisa bersaing dengan Mercedes-Benz GLS atau BMW X7.
Salah satu tantangan berat Porsche datang dari pasar China. Negara yang sebelumnya menjadi sumber keuntungan penting itu mengalami penurunan penjualan lebih dari 25 persen pada 2025. Persaingan dengan produsen lokal seperti BYD dan Xiaomi disebut ikut menekan posisi Porsche, terutama karena pabrikan domestik kini menawarkan SUV mewah dengan teknologi tinggi yang lebih mudah dijangkau konsumen.
Leiters mengakui bahwa pasar China masih relevan bagi mesin pembakaran internal, tetapi ia menegaskan Porsche tidak akan ikut terjun dalam persaingan keras kendaraan listrik yang saat ini berlangsung dalam perang harga. Di sisi keuangan, jumlah pengiriman kendaraan Porsche pada 2025 turun 10 persen, sementara margin laba operasional anjlok menjadi 1,1 persen dari 14,1 persen pada tahun sebelumnya. Angka itu seperti dari level podium langsung turun ke bangku cadangan.
Untuk memperbaiki kondisi, Porsche menargetkan margin laba operasional pulih ke kisaran 5,5 persen hingga 7,5 persen pada 2026. Perusahaan juga menurunkan usulan dividen setelah terbebani biaya luar biasa 3,9 miliar euro, termasuk penyesuaian strategi kendaraan listrik dan biaya tarif. Michael Leiters menyatakan rincian lebih lanjut soal strategi barunya akan diumumkan pada kuartal ketiga tahun ini, sementara pasar menunggu apakah fokus pada mobil sport tradisional benar-benar mampu mengembalikan performa Porsche.






