Tekanan di industri kendaraan listrik mulai mendorong perubahan strategi di sektor baterai. Ketika permintaan EV melandai dan margin tertekan, sejumlah produsen baterai besar Korea Selatan disebut mulai serius menggarap pasar robot, termasuk robot humanoid. Arah ini dinilai menarik karena baterai untuk robot menuntut spesifikasi lebih tinggi—meski volumenya masih jauh dari baterai untuk mobil listrik dan sistem penyimpanan energi (ESS).
Dua nama yang kerap disebut berada di barisan depan adalah LG Energy Solution dan Samsung SDI. Keduanya melihat robotika sebagai peluang diversifikasi, terutama ketika persaingan harga di baterai EV makin ketat. Untuk robot humanoid, baterai tidak sekadar “cukup kuat”, tetapi harus ringan, tahan siklus pengisian cepat, dan stabil untuk operasi terus-menerus. Kebutuhan tersebut membuat nilai jual baterai robot cenderung lebih mahal dibanding baterai EV pada kapasitas yang sama.
LG Energy Solution, misalnya, dikaitkan dengan langkah agresif memasok baterai silinder untuk berbagai produsen robot global. Fokusnya meliputi robot layanan, robot seluler otonom, sampai platform humanoid yang membutuhkan bentuk ringkas tetapi kapasitas besar. Perusahaan juga disebut berdiskusi dengan mitra terkait spesifikasi teknis dan rencana produksi massal untuk generasi robot berikutnya. Di saat yang sama, ada pula kabar bahwa LG mengejar kerja sama khusus untuk memasok baterai bagi robot humanoid Optimus milik Tesla, seiring ambisi Tesla memperbesar skala produksi.
Samsung SDI pun mengambil jalur kolaborasi. Disebutkan perusahaan menandatangani kesepakatan dengan Hyundai untuk mengembangkan baterai yang lebih optimal bagi robot, dengan fokus pada stabilitas output, daya tahan, serta fleksibilitas desain paket. Hyundai sendiri menaungi Boston Dynamics, yang dikenal sebagai salah satu pemain penting di dunia robotika.
Meski prospeknya terlihat “high-end”, banyak analis mengingatkan kontribusi bisnis robot ke pendapatan produsen baterai belum akan besar dalam waktu dekat. Prediksi ukuran pasar baterai robot pada 2030 masih kecil dibanding EV dan ESS. Namun, untuk strategi jangka panjang, robot dipandang sebagai “segmen perantara” yang menjanjikan: volumenya tidak sebesar EV, tetapi margin berpotensi lebih tinggi, tingkat kustomisasi lebih dalam, dan relasi pelanggan lebih lengket.






