Penjualan kendaraan listrik di Thailand mencatat lonjakan besar pada Januari 2026 dan menorehkan rekor baru. Total penjualan mobil listrik, termasuk mobil penumpang dan kendaraan komersial ringan, dilaporkan menembus lebih dari 44.000 unit dalam satu bulan.
Tidak hanya dari sisi volume, tingkat penetrasi pasar EV juga melonjak tajam hingga 48 persen. Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 37 persen yang tercatat pada Desember 2025, menandakan akselerasi permintaan yang sangat kuat pada awal tahun.
Salah satu pendorong utama lonjakan ini adalah perpanjangan masa pendaftaran kendaraan dalam program insentif EV3. Batas waktu yang semula berakhir Desember 2025 diperpanjang hingga akhir Januari 2026, sesuai pengumuman pemerintah pada November 2025.
Pada saat yang sama, program EV3.5 juga mengalami perpanjangan tenggat pendaftaran. Kebijakan ini memberi ruang tambahan bagi pelaku pasar dan konsumen untuk menyelesaikan proses pembelian serta registrasi kendaraan listrik sebelum masa insentif berakhir.
Program EV3 dan EV3.5 sendiri memiliki peran strategis dalam mendorong adopsi kendaraan listrik di Thailand. Pemerintah memberikan subsidi langsung kepada konsumen serta insentif pajak impor untuk kendaraan listrik impor utuh (CBU), dengan syarat produsen harus mengimbangi lewat produksi EV domestik di masa depan.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari ambisi Thailand untuk menjadi pusat kendaraan listrik di Asia Tenggara. Hingga kini, sekitar 14 produsen OEM telah menyiapkan aktivitas perakitan EV di Thailand, memperkuat posisi negara itu sebagai basis pasar sekaligus ekspor regional.
Lonjakan penjualan juga diperkuat oleh perubahan pajak konsumsi khusus yang berlaku mulai 1 Januari. Pajak untuk mobil penumpang listrik murni (BEV) dipangkas dari 8 persen menjadi 2 persen, sedangkan pickup BEV turun dari 2 persen menjadi 0 persen, sehingga harga kendaraan menjadi lebih kompetitif.
Meski hasil Januari sangat impresif, sejumlah analis menilai lonjakan ini bisa bersifat sementara karena dipengaruhi percepatan registrasi menjelang batas waktu program EV3. Artinya, sebagian permintaan kemungkinan “ditarik maju” ke Januari dan belum tentu langsung berlanjut dengan pola yang sama di bulan berikutnya.
Namun dalam jangka menengah hingga panjang, pemerintah Thailand tetap berharap program EV3.5 akan mendorong pertumbuhan produksi domestik secara lebih berkelanjutan. Salah satu instrumennya adalah aturan offset yang mewajibkan rasio produksi dalam negeri terhadap kendaraan impor.
Saat ini rasio offset ditetapkan dua kendaraan diproduksi lokal untuk setiap satu kendaraan impor, dan akan meningkat menjadi 3:1 mulai 2027. Pemerintah juga menambah insentif dengan menghitung satu kendaraan listrik ekspor dari Thailand setara 1,5 kendaraan dalam pemenuhan kewajiban produksi domestik. Kombinasi kebijakan ini menunjukkan strategi Thailand tidak hanya mengejar penjualan jangka pendek, tetapi juga membangun ekosistem manufaktur dan ekspor EV yang kuat.






