Xiaomi Auto kembali mencetak angka yang membuat banyak pemain lama menoleh. Setelah masuk pasar kendaraan listrik pada April 2024, perusahaan ini mengumumkan total penjualannya telah melampaui 600.000 unit. Dengan kata lain, butuh sekitar 22 bulan bagi “pendatang baru” ini untuk mencapai skala yang biasanya baru diraih setelah bertahun-tahun.
Pencapaian tersebut bukan datang dari satu momen, melainkan dari konsistensi penjualan bulanan yang tinggi serta posisi Xiaomi yang makin kuat di pasar kendaraan energi baru (NEV) di Tiongkok. Saat banyak merek harus berjuang keras mempertahankan volume, Xiaomi justru terlihat mampu menjaga ritme pengiriman.
Di awal 2026, perusahaan mengungkap angka pengiriman Januari yang mencapai sekitar 39 ribu unit. Yang paling mencolok, model Xiaomi YU7 disebut menyumbang kira-kira 97% dari total tersebut. Dominasi sebesar itu menunjukkan bahwa strategi portofolio Xiaomi sementara ini bertumpu pada satu model yang benar-benar “mengangkat” kinerja perusahaan.
YU7 sendiri diposisikan sebagai model utama dan menjadi SUV pertama Xiaomi yang diluncurkan pada pertengahan 2025. Dalam waktu sekitar enam bulan setelah debutnya, penjualan YU7 dikabarkan sudah menembus 150.000 unit. Angka itu disebut lebih dari dua kali lipat pengiriman Xiaomi SU7 pada periode yang sama, menegaskan bahwa segmen SUV memang lebih “ramai” dan lebih mudah menyedot minat pasar.
Tahun lalu, Xiaomi juga menyampaikan bahwa pengiriman tahunan mereka melewati 410.000 unit. Capaian tersebut melampaui target internal dan menempatkan Xiaomi di kelompok produsen NEV dengan pertumbuhan paling cepat. Bahkan pada Desember 2025, Xiaomi disebut sempat mencatat penjualan bulanan lebih dari 50.000 unit—rekor tertinggi sejak mereka masuk ke industri mobil listrik.
Menariknya, sumber-sumber industri menyebut pasar mobil listrik Tiongkok mengalami perlambatan pada bulan pembuka 2026. Namun, YU7 tetap tampil kuat, mengisyaratkan daya saing yang serius di kelas SUV. Di sisi lain, penjualan SU7 generasi pertama disebut mulai melewati fase puncak, sehingga peran YU7 sebagai “penopang” kian tidak terbantahkan.
Soal langkah ke depan, CEO Xiaomi Lei Jun menegaskan kembali target penjualan tahun 2026 di angka 550.000 unit. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, target ini berarti kenaikan sekitar 34%. Cara mencapainya kemungkinan lewat dua jalur: ekspansi kapasitas produksi dan peluncuran varian baru dari lini yang sudah ada agar momentum pasar tetap terjaga.
Selain membesarkan pasar domestik, opsi ekspor mulai terasa sebagai langkah logis. Sejumlah laporan menyebut Xiaomi mempertimbangkan masuk Eropa pada 2027. Jika rencana ini berjalan, tantangannya bukan hanya regulasi dan jaringan servis, tetapi juga bagaimana Xiaomi menjaga “citra teknologi” mereka tetap relevan di pasar yang sangat kompetitif. Namun satu hal sudah jelas: dengan penjualan yang tumbuh cepat, Xiaomi Auto kini bukan lagi sekadar proyek coba-coba.






